SETENGAH FIKSI

Sangat merindukanku itu mudah; pura - pura tidak merindukanmu itu susah.

Even when you’re beside me; I lost count of how many times I am missing you.

Aku tak lagi bisa membedakan waktu.
Setiap hari sama saja bagiku.
Sama - sama tanpa kamu.

Tak sempat kita menghabiskan semua surga dunia.

Kita kehabisan waktu juga peluang - peluang takdir.

Untukmu yang telah jauh entah di mana. Kukirimkan rindu dari dermaga mimpi kala senja.

Lebih dari secangkir kopi aku ingin terus bersamamu menunggu pagi.

Tapi entah, dimana engkau kini.

Engkau yang tanpa aku; akankah baik - baik saja?

Aku terus bertanya - tanya

Berada di dekatmu menyakiti aku. Berada jauh darimu membunuhku.

Berdekatan denganmu membuatku gusar,
Berjauhan denganmu membuat resahku menggila.

Kemudian, bagaimana lagi aku harus mengatakan, bahwa aku sangatlah mencintaimu?

Aku menelusup hariku pada sebuah dinding. Yang mana aku mengumpamakannya engkau. Kuceritakan padanya tentang hariku; waktu - waktu aku sangat kehilanganmu. Kisahku memantul dalam diam. Hingga sunyi menyadarkan aku, seperti halnya dinding itu, engkau tak lagi ada untuk mendengar aku.

Aku berkaca pada cermin - cermin yang selalu memuji kecantikanku. Pada siang, ia menjadikan aku cerah; seolah aku adalah ceria. Pada malam, ia menjadikan aku jelita. Bahkan purnama tak hendak bertarung melawan aku.

Aku menatap refleksiku; mengumpamakannya engkau. Kusentuh pipiku kemudian tersenyum. Lama kutatap diriku hingga airmata menyadarkan aku. Seperti halnya cermin, engkau tak hendak menyentuh aku kemudian tersenyum. Tidak sekarang, tak juga nanti.

Aku mengakhiri malam dengan berpeluk pada selimut. Memeluknya erat, mengumpamakannya engkau. Kujatuhkan helai - helai kesedihanku tanpa berkisah. Hanya isak membungkam; sesekali menyebabkan aku susah bernafas. Hingga dingin menyadarkan aku, seperti halnya selimut; engkau tak mungkin memelukku seperti aku berharap memelukmu.

Mungkin aku sudah gila;
gila karena sangat merindukanmu.