SETENGAH FIKSI

Ia tak pernah tahu, kehilangan dirinya jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan hal - hal selain Ia.

Ia kehilangan hal - hal besar dalam hidupnya.
Dan aku kehilangan dia.

Aku sudah terbiasa menunggu. Dan karenamu, aku jadi mampu untuk terbiasa menunggu lebih lama lagi.

Maafkan aku yang tak bisa menahan diri untuk tak banyak bercerita di hadapanmu. Mungkin karena, aku sangat merindukanmu.

Apa kabarmu hari ini?

Apa kamu tengah membuat seseorang tersipu malu,
seperti engkau pernah membuatku tersipu malu?
Apa kamu menyamankan seseorang dengan pelukanmu,
seperti engkau menyamankan aku dulu dengan pelukanmu?
Apa kamu sedang merindukan seseorang seperti caramu dulu merindukan aku?
Apa kamu mencoba membahagiakan seseorang seperti engkau dulu pernah membahagiakan aku?
Apa kamu mencintai seseorang seperti engkau dulu pernah mencintai aku?

Entahlah.

aku yang terluka untukmu.

Mungkinkah akan kembali kita rajut beberapa kenangan;
untuk aku tumpahkan dalam tulisan?
Bila kini kau menjadi asing, masihkah ada yang tersisa untukku bercerita?

My.Music.Moment - Jikustik - Puisi

Hai. Apakabar kamu?
Masihkah engkau sesekali teringat aku?
Masihkah engkau sesekali merindukan aku?
Masihkah engkau sesekali ingin berjumpa denganku?

Aku hanya mampu menuangkan dalam kata demi kata;
di setiap waktu aku teringat dan mengingatmu.

Rangkaian tulisan dariku ini adalah;
caraku memeluk ketika tanganku tak bisa lagi menjangkaumu.
caraku menyentuh ketika senyummu tak bisa lagi aku lihat.
caraku menyapa ketika tak bisa lagi bertukar kata.
caraku menemani karena tak bisa lagi ada di sisi.
caraku mendoakan karena tak bisa lagi menguatkanmu.
caraku mencintai karena tak mungkin lagi bersama.

Kau mungkin akan membacanya, mungkin juga melupakannya.
Ah, aku tak tahu.
Namun bila kini engkau sempatkan untuk mengenang aku,
berjanjilah untuk tersenyum; berbahagialah.

aku yang selalu mencintaimu.