SETENGAH FIKSI
SETENGAH FIKSI
Spasi.Kata.Titik.Koma

"waktu selalu berlari.
seperti halnya kereta yang tak akan menunggu penumpangnya yang terlambat.
namun yang waktu tak pahami adalah,
ia tak akan mampu menghentikan cintaku kepadamu.
juga kepedihan - kepedihan."

Coretan Waktu

Seperti terjaga dari mimpi indah yang telah ditahan selama mungkin agar tak sampai terputus. Terbangun dan menyadari tak ada lagi pagi yang mengintip malu dari balik tirai jendelaku. Sekalipun terang mengisi separuh ruangku, matahari tak secerah dulu itu.

Dulu itu, aku biasa berkaca pada cermin yang berhiaskan senyum - senyum darinya; yang memesonaku dengan sangat. Kemudian ia menelisik lembut rambutku sembari mengucapkan selamat pagi. Tarikan di dua ujung bibirnya seolah purnama ketika gerhana pernah menjadi selamanya.

Dulu itu, perapian tak perlu membakar api semerah mungkin hanya agar aku tetap hangat. Hujan sederas apa, dingin tak pernah sebegitu nyata menusuk kulitku. Ia selalu ada untuk memelukku seeratnya agar rasaku tak lepas; menjaga agar aku tak pernah bebas dari dunianya. Sehingga aku tak memerlukan lagi khawatir untuk menyeimbangkan rasa amanku.

Dulu itu, bintang senja tak pernah meredup dari ingatan. Hingga subuh menampakkan diri, aku tak pernah ketakutan. Hanya agar warna - warni pelangi tetap kujelang kala hujan mulai rentan. Ia tak pernah lupa menggenggam jemariku atau sekedar merebahkanku di pangkuan dan menatap lepas pada langit kemudian. Kami menghitung bintang. Mengumpakannya jutaan mimpi - mimpi yang sedang kami imajikan. Malamku tak pernah kesepian. Saat pagi datang, bulan pun enggan meninggalkan langit meski sinarnya kalah dengan terik cahaya pagi. Seperti itu juga Ia selalu ada.

Kini, siang dan malamku tercuri dengan jelasnya. Tak lagi bisa kubedakan sekat hari. Gelap menaungi seluruh rasa yang pernah tercurah pada satu titik saja; dirinya. Aku bahkan tak yakin lelap dan terjagaku adalah dua hal yang berbeda. Karena sesungguhnya saat ini, semua serasa sama saja.

Luas langit serasa berpusat pada satu rasi bintang yang dulu kami abadikan berdua. Lapang udara hanya menyadarkanku makin sulit saja aku menghelanya. Segala keajaiban menemui kenyataan; Ia telah pergi. Tak yakin pada tenggelamnya senja atau cerahnya pagi. Langkahnya tak lagi bisa kuikuti. Jejak yang tertinggal senyata apa, berpangkal sedih yang berakibat pada tangisku.

Udara yang pernah dengan setia kuhirup itu menghilang dan aku kembali sendirian. Kulanjutkan hitungan waktu yang membentang di hadapanku, tanpa aku tahu kemana harus menapakkan tujuan. Karena semua tentangnya adalah hidupku. Karena semua tentangnya pernah kujadikan duniaku. Yang pada masa sekarang; ternyata tak berubah sedikitpun.

"Tentang cinta yang terhentikan oleh waktu.
Namun tak pernah mati kutu."

"Sorry. I am so sorry.
I love you to the moon and back.
It means,
I love you so much so that I can’t stop."

"

Don’t tell me the truth, tell me that it didn’t happen
There’s been a mistake.
There’s been a misunderstanding

If this is the end,
then we whisper the wind and release it

We don’t have to know.
We don’t have it all worked out.
We can just keep walking blind.

Don’t give me your word,
give me something to hold on to
I don’t want to fight,
I don’t want no big decision,

Dirty your hand,
for tearing my heart into pieces.

"

WALKING BLIND

"

Aku menyebutnya mimpi. Jatuh di pelukmu beberapa kali dan mendengar debar jantungmu kembali dengan hanya berjarak beberapa inci.

Aku menyebutnya mimpi. Beberapa saat memiliki kamu di sisi dan menelusuri wajahmu dengan jemari atau mengecup keningmu lagi dan lagi.

Aku menyebutnya mimpi. Karena pada akhirnya, dari hidupku kamu tetap harus pergi.

"

Reblogged from chickenpasties, Posted by chickenpasties.

"pundakku serasa ditepuk rindu yang tak biasanya."

Pada Akhirnya Tetap Kupilih Kamu

Aku pernah begitu marah padamu

Menganggap bahwa perjuangan begitu susah, sampai kau enggan melangkah

Aku pernah berlari jauh darimu
Karena berada terus dekat malah membuat hatiku semakin sekarat

Aku pernah mencoba menjalin cinta dengan yang baru
Karena ternyata ia lebih baik, jelas lebih baik darimu

Aku pernah tidak mendengarkan hatiku
Menganggap bahwa sudah waktunya untuk logika menang dan menjadi juara

Aku pernah merasa kalah
Karena ternyata aku membohongi hatiku dan itu sungguh lelah

Aku pernah berada dalam titik terendah ketika mencintaimu
Menganggap mungkin sudah waktunya untukku benar-benar melangkah
Pergi dan pergi, tanpa berniat kembali lagi

Namun ternyata
Tetap saja kupilih kau pada akhirnya

Kurasa ada yang berbicara lebih jelas dari sebelumnya
Kurasa cinta menjadi pemenangnya.

Tangerang, 14 April 2014

- Tia Setiawati Pakualam

via karenapuisiituindah

"Aku rindu diriku yang dulu ketika kamu masih di sekitarku. Sekedar kelopak bunga merekah saja tawaku akan terlepas tanpa batas. Kini tanpamu, bising matahari terbit saja aku tak peduli. Hanya terdengar ranting yang patah dengan jelasnya, lagi dan lagi."

"10 Things i Hate About You The Movie Quote"

1. I hate the way you talk to me and the way you cut your hair. 

2. I hate the way you drive my car. 

3. I hate it when you stare.

4. I hate your big dumb combat boots and the way you read my mind. 

5. I hate you so much it makes me sick — It even makes me rhyme.

6. I hate the way you’re always right. 

7. I hate it when you lie. 

8. I hate it when you make me laugh — even worse when you make me cry.

9. I hate it when you’re not around and the fact that you didn’t call. 

10. But mostly I hate the way I don’t hate you — not even close, not even a little bit, not even at all.

(Source: staypozitive)

"It’s too late to cry.
And I’m too broken to move on."

KEPADA IA

 

Kepada ia;
Kepada dia yang menjebak segala permainanku pada ujung yang kelam. Kelam sebab ia mengambil kembali cahaya yang sempat ia beri di waktu-waktu dulu. Dulu hidupku bertemaramkan lampu. Sudut-sudutnya digantungi lukisan-lukisan raja, atau sekedar gambar abstrak. Ruang-ruang kamar yang menjadi kepulanganku tak sempat luar biasa sampai ketika kutemukan dia yang selalu ada disana, bersantai dengan segala teknologinya, menyapa kabarku. Meskipun ia tidak sembari menatapku, tapi suaranya kepalang direkam dinding-dinding tempatku kini mengeratkan diri.
Kemudian ia membawakan cahaya-cahaya itu yang ia raup dari tirai pagi, menyematkannya di kaca-kaca, memantul cerah ke setiap lekuk ruang dan kubuang lampu-lampu yang pernah kusimpan. Tak kuduga iapun lalu mencuri malam – menggelapkan seluruhnya.
Kami sering berebahan bersama, menunjuk-nunjuk asbes langit-langit rumah dengan jari kosong. Disana kami temukan beberapa bahan percakapan; jumlah blok dalam asbes langit rumah akan menandakan jumlah anak kami kelak. Salah satu diantara kami pasti keberatan, sebab jumlahnya ada 5. Dia kemudian menggulungku di selimut, sembari bilang; bila harus 100, tetapi denganmu, aku bisa.
Asbes Langit-langit rumah yang kotak-kotak juga sering kami ibaratkan penjara, atau langit sungguhan. Sedangkan tidak henti-hentinya ia tertawa geli. Betapa bodoh semua itu. Aku memiringkan badan, memperhatikan jeli lekuk-lekuk pipi dan bibirnya dari samping. Kemudian hidung. Yang kubayangkan adalah pipi itu gurun sahara, hidungnya adalah pegunungan dan bibirnya adalah oase; sedang bibirku sendiri adalah pengembara. Sangat pelan kujelajahi itu semua. Sampai bertemu oase yang membuat pengembara kehausan.
Kepada ia;
Yang berdusta.
Yang mungkin tidak berdosa.
Aku kadang lupa bahwa otak ada dua; mereka mampu membangun persepsi dan persfektif serta dimensi secara masif, tidak hanya tertuju pada satu hal saja. Bagaimana ia tidak berdusta – dulu sekali ia ingin keberadaanku tetap ada di sisinya, menemani kopi-kopi paginya, sampai dingin dan tak bersisa. Namun aku tahu ia tidak berdosa; yang berdosa adalah diriku yang alpa mawas diri. Aku seharusnya bukan bidak catur yang ia permainkan dengan lihai. Aku seharusnya menjadi lawannya dengan kekuatan pion yang sama. Namun aku meminta maaf pada diriku sendiri bahwa dengannya aku tak mau setara. Dengannya aku sudi berbeda.
Kepada ia;
Yang pernah bertekuk iba.
Suatu masa kami berkelana ke bebukitan. Dingin cuaca mengusir hangat-hangat mentari pagi. Kulitnya menggigil dan kuhangatkan ia dalam ribuan pelukan. Ia berujar:kau mendekapku seolah aku tak boleh mati kedinginan. Cuaca ini mungkin bisa saja membunuhku tapi kau ada dan aku percaya – bahwa aku akan baik-baik saja. Apakah bila kau pergi, dinginnya lebih-lebih dari ini?
Aku menjawab dengan tergesa-gesa: Aku tidak akan pergi. Aku akan melindungimu di segala cuaca. Aku tak pernah tahu apakah kepergianku bisa mengalahkan dingin ini. Aku tak yakin bisa.
Lalu ia kemudian merapikan rambutku yang dihembus angin dan meminta iba bahwa aku jangan sampai pergi sekalipun kita tidak lagi di atas bukit. Ia memintaku ada di pantai, di pinggiran sungai, di ladang dan di awan. Seharusnya aku tanyakan lebih jeli;akankah ia juga ada disana jua?
Kepadaku;
Yang harus melewati ini semua.
Genta-genta waktu tidak berhenti berbunyi meski ia telah pergi. Mereka berbunyi memberiku tanda bahwa aku belum tuli sepenuhnya. Maka kulanjutkan hidupku sendiri. Aku tidak harus membodoh-bodohi diriku lebih jauh; sebab ilmu-pun datangnya dari rasa tidak tahu. Kini aku tahu sebagian darimu. Sebagian darimu yang menyayangiku dan membunuhku secara tiba-tiba. Sedang sebagian dirimu yang lain tak akan lagi ada; kau harus membaginya dengan duniamu yang disana.
- Rarasekar - Candrasangkala -

"

Ia masih bernafas.
Darah masih mengalir dengan segar.
Tangisannya pecah dengan nyaring layaknya bayi yang baru lahir.
Teriakannya pilu, berharap terselamatkan.
Dan aku menguburnya hidup - hidup.
Dengan teganya.

Harapanku untuk bersamamu.

"